Hakekat Berdzikir
Dzikir berarti menyebut dan
mengingat. Dzikrullah menyebut dan mengingat Allah SWT. Dzikir yang baik mencakup
dua makna di atas; menyebut dan mengingat. Dzikir dengan hanya menyebut dengan
lisan tanpa menghadirkan hati tetap bisa mendatangkan pahala, namun tentu
dzikir macam ini berada pada tingkat yang paling rendah. Dzikir dengan lisan
tanpa menghadirkan hati dan pikiran bisa saja memberi pengaruh terhadap hati
dan keimanan seseorang, tetapi pengaruhnya tidak sebesar dzikir sambil
menghadirkan hati. Paling baik adalah dzikir dengan lisan sambil menghadirkan
hati.
Dalam ajaran Islam, banyak
kesempatan dan sarana yang Allah SWT sediakan bagi Kaum Muslimin untuk
melaksanakan ibadah dzikir ini. Dalam kehidupan Muslim, ada berbagai doa yang
bisa dibaca dalam beragam aktivitas dan kesempatan. Mulai dari bangun tidur
sampai tidur kembali, hampir seluruh satuan kegiatan ada doa khusus. Paling
tidak, dalam setiap aktivitas Muslim secara umum, seyogiyanya dimulai dengan
membaca basmalah, yang juga mengandung makna dzikir; menyebut dan
mengingat Allah SWT. Rasul Saw bersabda: “Setiap amal yang tidak dimulai dengan
nama Allah SWT, maka ia terputus dari keberkahan”. (HR. Abu Dawud).
Ibadah dzikir cukup simpel dan mudah
dilakukan. Tidak harus dengan persiapan khusus, tempat khusus dan waktu khusus.
Dalam kondisi apapun diperbolehkan, asal tidak pada tempat-tempat yang kotor
dan menjijikkan. Seorang Muslim bisa memanfaatkan waktu yang senggang dan
kosong untuk berdzikir. Berdzikir bisa dilakukan pada waktu menunggu antrian,
waktu menunggu lampu merah, dan seterusanya. Mengisi waktu kosong dengan
dzikrullah, bisa membantu seseorang terhindar dari perbuatan sia-sia dan dosa.
Karena waktu dan kesempatan yang kosong berpeluang dua hal; kebaikan atau
keburukan, positif atau sebaliknya.
Dzikrullah adalah satu ibadah yang
sangat mulia dan begitu dianjurkan. Keutamaan dan nilai dari ibadah ini begitu
besar dan beragam. Bahkan dapat disimpulkan bahwa sangat tidak sebanding antara
upaya dan energi yang dikeluarkan untuk melakukan ibadah dzikir dengan
keutamaan yang disediakan. Dzikir adalah ibadah yang tidak begitu memerlukan upaya
dan pengorbanan besar.
Al-Qur’an dan Hadits sangat
menganjurkan juga mengisyaratkan betapa mulia ibadah dzikir. Allah SWT
memerintah Kaum Muslimin untuk banyak berdzikir, tanpa dibatasi jumlahnya.
“Wahai orang-orang yang beriman banyak-banyaklah berdzikir kepada Allah.
(Al-Ahzab: 41). Dzikir dari sisi waktu pelaksanaannya terbagi menjadi dua;
pertama dzikir muqayyad (terikat/tertentu), kedua dzikir muthlak (bebas).
Dzikir muqayyad (terikat/tertentu) dilakukan dengan jumlah yang
ditentukan oleh nash hadits. Sebagaimana dzikir setelah shalat lima waktu
dengan membaca subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar,
masing-masing tiga puluh tiga kali, dan ditutup dengan kalimat tahlil satu
kali, maka seluruhnya berjumlah seratus, dan disebutkan dalam riwayat lain
dengan jumlah yang berbeda.
Adapun dzikir muthlak (bebas
) boleh dilakukan dalam jumlah yang tidak terbatas. Dan adanya pembagian kepada
dzikir muthlak (bebas ) ini memberikan peluang bagi Muslim untuk sering
melakukan dzikrullah. Sebagaimana Allah SWT memotivasi hal tersebut seraya
mengisyaratkan bahwa sering berdzikir adalah kebiasaan atau tradisi orang-orang
yang “cerdas”. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang
berakal (cerdas). Yaitu orang-orang yang berdzikir (mengingat) Allah dalam
kondisi berdiri, duduk dan berbaring. (Ali Imran: 190-191).
Rasulullah Saw juga menjelaskan
bahwa dzikrullah menjadi pembeda seorang yang ‘hidup’ dan ‘mati’. Diriwayatkan dari
Abu Musa, Rasulullah Saw bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir mengingat
Allah dan yang tidak pernah berdzikir kepadaNya bagai orang yang hidup dan
mati”. (HR. Baihaqi). Tentu, maksud hidup dan mati di sini pada sisi hati dan
batin. Dalam hadits lain disebutkan: “Sesungguhnya hati itu bisa berkarat
sebagaimana besi bila dikenai air”. Rasul ditanya: “Apa penawarnya wahai
Rasul?” Rasul bersabda: “Mengingat kematian dan membaca Al-Qur’an. (HR.
Baihaqi). Dan membaca Al-Qur’an termasuk dzikrullah yang paling utama.
Siapa yang senantiasa melantunkan
dzikir hatinya bisa hidup, dan sebaliknya siapa yang jauh dari dzikrullah, akan
terancam mati hati. Hidup dan mati hati pada selanjutnya akan menentukan moral
dan prilaku seorang Muslim. Selanjutnya juga akan menentukan nilai dan kualitas
kehidupan seorang Muslim. Berarti bahwa dzikir bisa mempengaruhi kualitas hidup
seorang Muslim.
Tentu ibadah ini dilakukan dengan
tata cara dan adab yang tidak melanggar ajaran dan etika dalam Islam. Dua hal
secara umum yang menjadi syarat agar ibadah dzikir diterima di sisi Allah SWT.
Pertama, motivasi untuk mendapat ridha dan balasan baik dari Allah SWT. Kedua,
tata cara pelaksanaannya sesuai tuntutan syariah. Tata caranya tidak berbau
kesyirikan, tidak mendatangkan mafsadah (kerugian) baik terhadap pribadi
maupun orang lain, tidak mengganggu kepentingan umum, dan sebagainya. Dan
tentunya banyak berdzikir tidak sepatutnya mengganggu kewajiban lain, karena
berdzikir adalah ibadah sunnah, yang tidak boleh mengganggu aktivitas yang
wajib.
Manfaat Berdzikir
Demikian, begitu besar keutamaan
dzikrullah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an: “Dan sesungguhnya
berdzikir kepada Allah itu adalah lebih besar -keutamaannya-.” (Al-’Ankabut:
45). Agar termotivasi untuk memperbanyak dzikrullah, Muslim perlu
mengetahui manfaat dari ibadah ini. Satu kiat yang umum diketahui, bahwa agar
seseorang termotivasi melakukan suatu hal, maka ia perlu mengetahui manfaat
dari hal tersebut.
Selain manfaat yang bersifat bathini
(non-fisik atau kejiwaan), di zaman modern ini banyak penelitian juga
penemuan yang menjelaskan manfaat-manfaat dzikir secara fisik (kesehatan
badan). Berbagai penemuan dan penelitian di Negara Muslim atau bahkan di Negara
minoritas Muslim seperti di Amerika dan Inggris menjelaskan fakta tersebut.
Dalam suatu konfrensi kedokteran di
Kairo beberapa waktu yang lalu, Doktor Ahmad Al Qodli, ahli penyakit jantung
dan direktur lembaga pendidikan dan penelitian kedokteran Islam di Amerika,
menyatakan bahwa mendengarkan atau membaca Al- Quran sebagai bentuk dzikir yang
paling utama (afdhal) mampu menimbulkan ketenangan jiwa yang menyebabkan
peningkatan daya imunitas tubuh melawan serangan penyakit.
Kesimpulan tersebut disampaikan
dalam konferensi tersebut setelah mengadakan riset lapangan terhadap 210 pasien
sukarela selama 48 kali pengobatan yang dibarengi dengan membaca Al-Quran atau
memperdengarkannya. Ternyata 77% dari sampel acak yang terdiri dari muslim dan
non muslim tersebut, menampakan adanya gejala pengenduran syaraf yang tegang
dan selanjutnya menimbulkan ketenangan jiwa. Semua gejala tadi direkam dengan
alat pendeteksi elektronik yang dilengkapi dengan komputer untuk mengukur
setiap perubahan yang terjadi dalam tubuh selama pengobatan. Menurut Al Qodli,
berkurangnya ketegangan saraf ini mampu mengaktifkan dan meningkatkan daya
imunitas tubuh dan memperoleh proses kesembuhan pasien.
Penemuan ilmiah tersebut menunjukan
salah satu kemukjizatan sunnah Nabawiyah yang menyatakan: “Dan tiadalah
suatu kaum berkumpul disalah satu rumah Allah (masjid) membaca kitabullah
(Al-Quran) dan mempelajarinya kecuali akan dikelilingi Malaikat, dianugerahi
ketenangan, diliputi rahmat dan disebut-sebut Allah dihadapan makhluk yang
dekat kepadanya “ (HR. Muslim).
Sejak abad 13 Masehi, Imam Ibnu
Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Al-Wabil Ash Shayyib menyebutkan manfaat dari
dzikrullah sebanyak tujuhpuluh tiga, diantaranya sebagai berikut:
·
Mengusir setan.
·
Mendatangkan ridha Ar Rahman.
·
Menghilangkan gelisah dan hati yang gundah gulana.
· Hati
menjadi gembira dan lapang.
·
Menguatkan hati dan badan.
·
Menerangi hati dan wajah menjadi bersinar.
·
Mendatangkan rizki.
·
Orang yang berdzikir akan merasakan manisnya iman dan keceriaan.
·
Mendatangkan inabah, yaitu kembali pada Allah ‘Azza wa Jalla. Semakin
seseorang kembali pada Allah dengan banyak berdzikir pada-Nya, maka hatinya pun
akan kembali pada Allah dalam setiap keadaan.
· Meraih
apa yang Allah sebut dalam ayat: “Maka ingatlah pada-Ku, maka Aku akan
mengingat kalian.” (QS. Al Baqarah:152). Seandainya tidak ada keutamaan dzikir
selain yang disebutkan dalam ayat ini, maka sudahlah cukup keutamaan yang
disebut.
· Hati
akan semakin hidup. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Dzikir bagi hati
seperti air yang dibutuhkan ikan. Lihatlah apa yang terjadi jika ikan tersebut
berpisah dari air?”.
· Dzikir
menyebabkan lisan semakin sibuk sehingga terhindar dari ghibah (menggunjing),
namimah (adu domba), dusta, perbuatan keji dan batil.
· Akan
memberikan rasa aman bagi seorang hamba dari kerugian di Hari Kiamat.
· Dzikir
adalah cahaya bagi pemiliknya di dunia, kubur, dan Hari Kebangkitan.
· Dzikir
akan memperingatkan hati yang tertidur lelap. Hati bisa jadi sadar dengan
dzikir.
Sumber: http://www.ikadi.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=740&catid=41&Itemid=72

Tidak ada komentar:
Posting Komentar